Catatan

Aku Pernah Patah Hati

06.30 Patricia Dian 0 Comments



Love Is Blind, pernah dengar kata-kata itu kan. Ada yang setuju?. Mungkin aku salah satu dari sekian orang yang mengatakan setuju, kenapa? Karena aku sendiri pernah mengalaminya.Tulisan ini aku buat jauh setelah aku bangkit dari kerapuhanku atas patah hati beberapa saat lalu. Setiap orang pasti pernah merasakan jatuh cinta. Jatuh cinta sedalam dalamnya hingga dibutakan karenanya. Seperti halnya diriku, yang sudah pernah merasakan jatuh cinta dan dibuat terbang setinggi langit. Aku pernah dengan tulus memberikan seluruh hatiku untuk seseorang. Aku percayakan padanya untuk menjaga hatiku yang masih utuh, dan berharap untuk menyimpannya dengan baik. Kala itu aku mengenalnya begitu dalam, telah aku curahkan segala waktu dan pikiranku untuk memikirkannya, bahkan tak kuberi sedikitpun celah untuk dimasuki hati lain. Setiap akses pintu masuk kehatiku kututup rapat bagai portal tak ada yang bisa memasukinya. Aku pernah berjuang sekuat  tenaga, tak peduli bagaimanapun sakit dan patah hatinya aku nanti. Jika kuingat saat ini, ternyata aku pernah sebodoh itu. Pernah kulakukan hal-hal yang tak masuk akal hanya untuk melihatnya bahagia. Semua kulakukan karena berpikir dialah yang dikirimkan Tuhan untukku. Kulewati hari demi hari bersamanya. Bahagia memenuhi hari-hariku kala itu.
Hingga pada akhirnya semua berubah, perasaanku hancur seketika saat itu. Hati yang pernah kutitipkan dikembalikan dalam keadaan hancur berkeping-keping. Aku merasakan patah hati sedalam-dalamnya. Tapi tetap aku berusaha memperjuangkannya habs-habisan. Segala usaha kulakukan untuk mempertahankannya, menahannya pergi tapi nyatanya dia tetap pergi. Tanpa menoleh sedikitpun kebelakang langkahnya semakin menjauh dan hilang tanpa meninggalkan bayangan. Aku mencoba mencari jawaban kepergiannya. Karena yang aku tau saat itu, kita bagai sejoli yang sepakat saling menjaga hati. Kuberanikan diri mencarinya, tujuannya masih sama ingin menahanya agar tetap disini. Semua cara kulakukan, berbagai upaya kuperjuangkan.
Tak berani aku membayangkan tentang patah hati, berbagai perasaan menghampiriku. Tentang bagaimana aku nanti ketika dia benar benar pergi. Dia yang membuatku bergantung, dia yang seakan mejadikanku tak terbiasa tanpanya .Sampai suatu hari kudapati alasanmu pergi. Dengan berat hati aku mencoba menerima kenyataan yang menyakitkan. Tanpa persiapan aku merasakan patah hati. Ternyata sesakit ini kulalui hari tanpanya, ternyata seperih ini membiarkannya pergi. Aku belum rela, bahkan tidak akan pernah rela melihatnya pergi. Tapi aku juga tetap tak bisa menahannya disini. Kubiarkan dia pergi, mengejar apa yang membuatnya bahagia mesti tanpaku. Kubiarkan kehidupan barunya tanpa sedikitpun aku terlibat didalamnya. Memang aku benar-benar patah hati. Sulit menggambarkan bagaimana rasanya sakit itu, lukanya begitu dalam. Entah butuh waktu berapa lama aku mengobatinya. Sekuat tenaga aku mencoba bertahan, bahkan aku masih setia menunggunya kembali.
            Satu tahun,dua tahun terlewati tanpanya. Aku mulai terbiasa dengan situasi seperti ini. Namun tidak ada yang berubah. Aku masih menunggunya kembali, meski aku sudah terbiasa tanpanya, meski aku bisa melewati semua sendiri. Awalnya berpikir, mungkin dengan menjauh, akan menghadirkan ruang rindu diantara kita. Rupanya itu tidak berlaku untuknya. Dia semakin menjauh, bayangannya pun tak bisa lagi hanya sekedar kulihat. Ternyata dia lebih bahagia tanpaku, dia bisa menjalani kehidupannya yang baru tanpaku. Hal ini menyadarkanku semakin kukejar semakin jauh pula dia berlari, semakin ingin aku bertahan semakin keras pula usahanya untuk pergi.
            Hari ini aku mengenang semuanya, aku paham betul bahwa aku pernah patah hati. Itu dulu saat aku masih begitu terobsesi padanya, cinta pertamaku. Kini aku sudah sembuh dari patah hati yang begitu mengoyakkanku. Aku mampu bangkit dan bertahan sampai detik ini. Matahari masih bersinar walau aku tanpanya, langit masih biru tanpa aku harus bersamanya. Dan ternyata donat masih tetap bulat walau dia memilih pergi dariku. Duniaku masih luas, waktuku masih panjang, aku ingin bahagia dan melanjutkan hidupku. Aku tak mengijinkan perasaan patah hati menggerogoti hidupku, aku tak mengijinkan luka itu terus bersemayam direlung hatiku yang paling dalam.
            Untuk sahabatku yang pernah merasakan patah hati seperti yang aku rasakan, aku tau tidak mudah untuk melewati masa-masa kritis ini, aku tau ini berat. Aku tau susah untuk beranjak. Tapi hidup tak harus berhenti sampai disini. Suatu saat ketika kau telah berhasil melarikan diri dari patah hati yang dirasakan saat ini kau hanya akan tertawa geli dan mampu mengatakan ternyata aku sebodoh itu.




0 komentar: