Catatan

Filosofi Cincin Kawin

23.11 Patricia Dian 2 Comments




Pernikahan adalah suatu momen yang paling bersejarah dalam hidup seseorang. Tidak heran jika banyak yang berlomba-lomba memberikan sesuatu yang berkesan pada acara pernikahannya. Berbicara tentang pernikahan pasti tidaklah jauh dari kata pesta, resepsi, dekorasi, gedung, catering, undangan, souvenir.  Tetapi ada satu hal yang jarang dibahas kebanyakan orang ketika menghadiri ataupun membicarakan tentang pernikahan yaitu cincin kawin.
Pernah nggak sih ketika kamu datang menghadiri pesta pernikahan, lalu terbersit pertanyaan, kenapa cincin selalu dipasang di jari manis bukannya jari tengah ataupun jari telunjuk? Dan kenapa bentuk cincin selalu bulat?
Entah kenapa pertanyaan ini tiba-tiba terbesit dihati saat menghadiri resepsi pernikahan seorang teman beberapa hari yang lalu. Ternyata setelah mengumpulkan beberapa informasi dari berbagai sumber didapatlah suatu fakta tentang cincin kawin yang jarang dibicarakan banyak orang.
Sejarah Cincin Kawin
Cincin baru dijadikan sebagai simbol pernikahan secara resmi saat era kekaisaran Romawi. Cincin pernikahan pertama yang pernah dibuat memiliki kandungan besi yang tinggi. Emas mulai digunakan sebagai bahan baku cincin saat disadari bahwa emas lebih indah dipadukan dengan batu permata. Batu ruby yang menjadi simbol penghias cincin pernikahan pertama. Warnanya yang merah dianggap mewakili warna hati. Selain batu ruby, batu safir juga menjadi simbol penghias cincin pernikahan yang populer karena dianggap mewakili surga, namun penghias cincin pernikahan yang paling populer adalah berlian. Berlian yang hampir tidak dapat dihancurkan dianggap menambah makna cincin pernikahan yang memiliki bentuk lingkaran dan bermakna keabadian.
Cincin Berbentuk bulat
Pada zaman dulu, para firaun yang berkuasa di Mesir menjadikan lingkaran sebagai simbol pernikahan. Bentuk lingkaran yang tidak memiliki ujung melambangkan pernikahan agar tetap abadi.
Mengapa Jari Manis?

Menurut masyarakat Tiongkok, setiap jari memiliki filosofinya sendiri-sendiri. Seperti ibu jari (jempol) yang merepresentasikan sosok orangtua, jari telunjuk digambarkan sebagai saudara, dan jari kelingking dianggap sebagai anak-anak. Sementara jari manis dipercaya melambangkan pasangan yang tidak dapat dipisahkan, sehingga dijari manislah cincin pernikahan dikenakan.
Dalam beraktivitas sehari-hari, seberapa sering sih kita menggunakan jari manis? Sangat jarang kan pastinya. Berikut penjelasan supaya kita lebih paham. Ikuti instruksinya untuk membuktikannya: (lihat gambar)

Katupkan kedua tangan menjadi satu.
  • Lipatlah jari tengah, sehingga bersisa keempat jari yang saling berpapasan.
  • Dalam posisi tertangkup seperti itu, cobalah untuk menarik kedua ibu jari menjauh.
  • Lanjutkan dengan jari telunjuk, jari manis, dan jari kelingking.

Jari Kanan atau Kiri
Kebanyakan orang menggunakan tangannya yang sebelah kanan untuk segala hal. Mereka percaya bahwa tangan kanan merupakan tangan yang sering digunakan dan memiliki kekuatan yang lebih besar. Karena hal itulah, cincin kawin harus berada di tangan kanan yang melambangkan pernikahan atas dasar cinta yang kuat dan kokoh pula.

Nah seperti itulah filosifinya kenapa cincin kawin disematkan dijari manis.


2 komentar: